Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fenomena Uang Saku Anak Kita Di Pondok Ataupun Sekolah Umum



Uang Saku Anak-anak Kita, Sekitar tahun 2013, “Mohon maaf, uang saku putra antum kebanyakan. Uang saku para santri kami antara 50.000 – 150.000”, begitu saya berbicang-bincang via telepon saat itu. “Oh, itu sudah sangat hemat Ustadz. Saya senang sekali anak saya bisa berhemat itu. Kalau waktu di rumah, jauh lebih dari itu. Pernah 100.000 sehari itu.
Ehm, saya berfikir. Sebesar itu?
“Kalau bakso mungkin di Jawa masih murah. Kami disini 25.000”, beliau menjelaskan, saya kemudian berifikir. Betul juga jika diluar Jawa memang mahal. Dulu ketika mie instang di Jawa Tengah harganya Rp. 500,-. Di Papua sana katanya Rp. 1.250,-

Santri saya yang rumahnya pedalaman Kalimantan juga pernah berkata bahwa bensin eceran di sana Rp. 20.000. Padahal di Solo masih Rp. 8.000

Saya pernah ngobrol dengan santri. Dengan bahasa yang rileks dan nada pelan.

“Orangtua antum ngasih uang saku?”, tanya saya.

“Ya, tapi tidak selalu setiap bulan”, jawabnya datar.
“Berapa biasanya?” masih dengan nada pelan.
“Dua ratus ribu”, dia menjawab santai.
“Itu untuk berapa bulan?” saya penasaran
“Kadang tiga bulan. Kadang kalau habis, saya nelpon ibu saya”, jawaban dia.

*Berapakah jumlah uang saku terendah di Ma’had kita?*
Jawabannya sungguh saat itu menyentuh hati saya.
Ada yang 30.000, ada yang 50.000. Ada juga yang tidak mesti diberi saku. Dan saya pernah terharu biru melihat di questioner ada yang menuliskan Rp. 10.000. Ya sepuluh ribu. Hak itu eberapa tahun lalu. Bukan belasan tahun yang lalu.

Beberapa tahun lalupun masih ada *Donasi Sabun*. Ya, santri yang uang sakunya dibawah Rp. 50.000 mendapatkan donasi sabun dari para Ummahat (jama’ah taklim yang kami bimbing dan jug adari istri-istri para Ustadz).

Tapi, alhamdulillaah. Yang saya ketahui, orangtua di tahun ajaran kemarin dan tahun ajaran baru ini hampir semua orangtua santri memberikan saku kepada anak-anaknya secara layak.

*Para ayah dan bunda rahimakumullaah…*

Kami menghimbau agar tidak memberikan uang saku yang banyak. Selain kurang mendidik bagi santri, juga bisa menimbulkan kecemburuan sosial. 

Para santri kita sudah makan 3x sehari, air minum juga lancar insyaAllah karena kami telah membeli tandon air yang langsung disambungkan ke dapur. 

Bidang Kesantrian telah memiliki *Data Santri* yang di dalamnya ada item seperti: jumlah uang saku perbulan, apakah kesulitan medapatkan sabut, hingga riwayat kesehatan. 

Dan hasilnya cukup membuat kami mengerutkan dahi: Ada orangtua yang memberi saku 750.000/bulan, 600.000/bulan, 500.000/bulan. 

*Mayoritas saku* anak-anak kita setiap bulannya,  di tahun yg sedang berjalan ini : 150.000 - 250.000. Wallahu a'lam. 

_Bapak dan ibu rahimakumullah..._
Mari terus kita kaji kesederhanaan yg kita didikkan untuk para santri kita. Mohon jangan memberikan uang saku yg terlalu banyak. 🙏🏼

*Kami terus akan menggali makna agar kesederhanaan tetap kita terapkan di Ma'had kita tercinta*.

Semoga Alloh memberikan kemudahan untuk kami agar bisa membimbing, mengarahkan dan mendampingi putra-putra antum semua dalam bertholabul ‘ilmi di sini dengan enjoy, kerasan dan sungguh-sungguh. 
_Baarokallohu fikum_

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh

Sumber : Ma'had Alkahfi Surakarta

Posting Komentar untuk "Fenomena Uang Saku Anak Kita Di Pondok Ataupun Sekolah Umum"